Published: 24 Jun 2019

According to Ministry of Industry data, currently, the number of entrepreneurs in Indonesia has reached 3.1% of the entire population. This ratio has exceeded international standards which set at 2%. However, that is not enough to lead Indonesia to become a developed country.

Our neighborhood countries have a higher ratio of entrepreneurs. For example, in Singapore, there are 7% of all residents who become entrepreneurs. Malaysia reaches 5%. In other developed countries, such as Japan and the United States, there are more than 10% of the population who are entrepreneurs.

In order to become a developed country, according to the Ministry of Industry, Indonesia needs to print 4 million new entrepreneurs. One place to create new entrepreneurs is a university. For this reason, universities in Indonesia must become an Entrepreneurial University.

An effort is being carried out by seven universities in Indonesia to achieve their vision of creating new entrepreneurs. The seven universities are President University, Padjajaran University, Semarang State University, Indonesian Islamic University (Yogyakarta), Ahmad Dahlan University, Brawijaya University, and STIE Malangkucecwara.

"Indonesia needs many new entrepreneurs to reduce the unemployment rate," said Prof. Ismunandar, Director General of Learning and Student Affairs, Ministry of Research and Technology of Higher Education, in a discussion entitled “Pendidikan dan Kewirausahaan dan Usulan Kebijakan bagi Perguruan Tinggi Indonesia” held by the Kemenristekdikti Office, Thursday, June 20 2019.

To achieve this goal, seven universities in Indonesia collaborate with four universities from Europe, which are the University of Gloucestershire (UK), Dublin Institute of Technology (Ireland), Fachhochschule des Mittelstandes (Germany), and University of Innsbruck (Austria). They formed a consortium and collaborated through a collaborative project called Growing Indonesia - a Triangular Approach or GITA project. The project is funded by Erasmus, a commission in the European Union that supports various activities in the fields of education, training, youth, and sports in various countries.

As seen from the name, triangular words refer to the three approaches used in the GITA project. The approach includes the development of effective collaborative relationships between universities and companies, implanting entrepreneurial spirit in all stakeholders at the university, and building new companies from ideas and innovations that contribute to the local and regional economy.

Prof. Neil Towers from the School of Business & Technology, University of Gloucestershire said, "It is important to incorporate entrepreneurship education into the university curriculum and assess what challenges arise in implementing these strategies institutionally." Towers, who is also Chair for the GITA project, also became speaker in the discussion arena.

Through the GITA project, the seven universities in Indonesia will become growth hubs, namely as a place for academics, students, alumni, startups, and companies to gather, share ideas and collaborate. In addition, the GITA project will also involve micro, small and medium enterprises (MSMEs) who will share their experiences on entrepreneurship.

 


 

Menurut data Kementerian Perindustrian, saat ini jumlah pengusaha di Indonesia sudah mencapai 3,1% dari seluruh penduduknya. Rasio ini sudah melampaui standar internasional yang menetapkan angka 2%. Namun, itu semua belum cukup untuk mengantarkan Indonesia menjadi negara maju.

Negara-negara tetangga punya rasio yang lebih tinggi. Singapura, misalnya, ada 7% dari seluruh penduduknya yang menjadi pengusaha. Malaysia mencapai 5%. Di negara-negara kaya lainnya, seperti Jepang dan Amerika Serikat, ada lebih dari 10% penduduknya yang menjadi pengusaha.

Agar bisa menjadi negara maju, menurut Kementerian Perindustrian, Indonesia perlu mencetak 4 juta pengusaha baru. Salah satu tempat untuk mencetak pengusaha-pengusaha baru adalah perguruan tinggi. Untuk itu perguruan-perguruan tinggi di Indonesia mesti menjadi Entrepreneurial University.

Upaya semacam itulah yang tengah dilakukan oleh tujuh perguruan tinggi di negara ini guna mewujudkan visinya mencetak pengusaha-pengusaha baru. Mereka adalah President University, Universitas Padjajaran, Universitas Negeri Semarang, Universitas Islam Indonesia (Yogyakarta), Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Brawijaya dan STIE Malangkucecwara. “Indonesia membutuhkan banyak pengusaha baru untuk menurunkan tingkat pengangguran,” kata Prof. Ismunandar, Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Ristek Dikti, dalam sebuah diskusi yang bertajuk Pendidikan dan Kewirausahaan dan Usulan Kebijakan bagi Perguruan Tinggi Indonesia yang digelar Gedung Kemenristekdikti, Kamis, 20 Juni 2019.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, tujuh perguruan tinggi di Indonesia bekerja sama dengan dengan empat perguruan tinggi dari Eropa, yakni University of Gloucestershire (UK), Dublin Institute of Technology (Irlandia), Fachhochschule des Mittelstandes (Jerman) dan University of Innsbruck (Austria). Mereka membentuk konsorsium dan berkolaborasi lewat sebuah proyek kerja sama yang disebut Growing Indonesia – a Triangular Approach atau proyek GITA. Proyek ini didanai oleh Erasmus, sebuah komisi di Uni Eropa yang mendukung berbagai kegiatan dalam bidang pendidikan, pelatihan, pemuda dan olahraga di berbagai negara.

Sesuai namanya, kata triangular merujuk pada tiga pendekatan yang dipakai dalam proyek GITA. Pendekatan tersebut mencakup pengembangan hubungan kerja sama yang efektif antara perguruan tinggi dan perusahaan, menanamkan jiwa kewirausahaan pada seluruh pemangku kepentingan di universitas, serta membangun perusahaan baru dari ide-ide dan inovasi yang berkontribusi pada ekonomi lokal maupun daerah.

Kata Prof. Neil Towers dari School of Business & Technology, University of Gloucestershire, “Penting sekali untuk memasukkan pendidikan kewirausahaan ke dalam kurikulum universitas dan menilai apa saja tantangan yang muncul dalam menerapkan strategi tersebut secara kelembagaan.” Towers, yang sekaligus Ketua untuk proyek GITA, juga menjadi pembicara dalam ajang diskusi tersebut.

Melalui proyek GITA, tujuh perguruan tinggi di Indonesia tersebut akan menjadi growth hub, yakni sebagai tempat bagi akademisi, mahasiswa, alumni, startup dan perusahaan-perusahaan untuk berkumpul, berbagi ide dan berkolaborasi. Selain itui proyek GITA juga akan melibatkan kalangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang akan berbagi pengalaman tentang kewirausahaan.