Actual

What's happening in PresUniv


Published: 12 Nov 2019

In the most recent development, the issue of the trade war between China and the United States has become the most crucial economic challenge in the world. In this case, the United States asks the World Trade Organization (WTO) to redefine developing countries' status especially China who inappropriately taking lenient treatment under global trade regulations.

This statement was highlighted by Rendy Utomo, a student of International Relations President University when representing the United State in Economix Model United Nations (MUN) at 17th Economix: Global Economic Challenges. Economix MUN is one of the most prestigious MUN in Indonesia that was organized by the Faculty of Economics and Business Universitas Indonesia with the topic “Free Trade or Fair Trade: Re-examining Perspectives on Trade to Reduce Global Inequality” on 3-7 November 2019 at Soeria Atmadja Auditorium.

The Economix MUN brought together hundreds of participants across ASEAN countries. The participant got the chance, on the sideline of the Economix MUN, to attend the seminar which Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, Minister of National Development Planning of Indonesia become the keynote speaker.

According to Rendy, the motivation behind his participation in the WTO council is this year’s Economix MUN brought the recent topic that needs an immediate solution by WTO members in order to create fair competition in an international trading system. In this opportunity, Rendy successfully won the “Best Delegate” award.

“Representing the United States in WTO council was kind of challenging since the country I represent actually the country that triggered the trade war itself but I can make a fair resolution for each country,” said Rendy.

Rendy argued that he put his best effort to win the award and he was promoting several resolutions in implementing fair trade such as glorifying redefinition of developing countries to make a fair trade, promoting safety net for marginalized groups and championing the idea of dispute settlement body.

“I do a lot of research, I read a lot of articles regarding the trade war, I frequently visit UN official website especially WTO and lastly I consult with economic experts,” added Rendy.

Lastly, Rendy was happy that his hard work has paid off and encouraged all the students to actively participated in the competition as many as they can in order to show the world that President University students have the capacity to share the best idea to present a better world for all. (LO/SL)

 


 

Mendefinisikan Ulang Karakteristik Negara Berkembang, Rendy Utomo Mendapatkan Predikat “Best Delegate” dalam ECONOMIX MUN

Dewasa ini, masalah perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat menjadi tantangan ekonomi paling krusial di dunia. Dalam hal ini, Amerika Serikat meminta Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk mendefinisikan kembali status negara-negara berkembang terutama Tiongkok yang menikmati perlakuan menguntungkan sepihak berdasarkan peraturan perdagangan global.

Pernyataan ini diungkapkan oleh Rendy Utamo, seorang mahasiswa Hubungan Internasional President University ketika mewakili Amerika Serikat dalam Economix Model United Nations (MUN) di Economix ke-17: Tantangan Ekonomi Global. Economix MUN adalah salah satu MUN paling bergengsi di Indonesia yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia dengan Topik "Perdagangan Bebas atau Perdagangan Adil: Memeriksa Kembali Perspektif Perdagangan untuk Mengurangi Ketimpangan Global" pada tanggal 3-7 November 2019 di Soeria Atmadja Auditorium.

The Economix MUN diikuti ratusan peserta di seluruh negara ASEAN. Di sela-sela Economix MUN, peserta juga mendapat kesempatan untuk menghadiri seminar di mana Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia menjadi pembicara utama.

Menurut Rendy, motivasi di balik keikutsertaannya dalam dewan WTO adalah Economix MUN tahun ini membawa topik baru-baru ini yang membutuhkan solusi yang tepat dan cepat oleh anggota WTO untuk menciptakan persaingan yang adil dalam sistem perdagangan internasional. Dalam kesempatan ini Rendy berhasil memenangkan penghargaan "Delegasi Terbaik".

“Mewakili Amerika Serikat dalam dewan WTO agak sulit karena negara yang saya wakili sebenarnya adalah negara yang memicu perang dagang itu sendiri, tetapi saya dapat membuat resolusi yang adil untuk masing-masing negara,” kata Rendy

Rendy berpendapat bahwa ia melakukan upaya terbaik untuk memenangkan penghargaan dan ia mempromosikan beberapa resolusi dalam menerapkan perdagangan yang adil seperti memuliakan redefinisi negara-negara berkembang untuk membuat perdagangan yang adil, mempromosikan safety net untuk kelompok-kelompok yang termarginalisasi dan memperjuangkan gagasan badan penyelesaian sengketa.

“Saya melakukan banyak penelitian, saya membaca banyak artikel mengenai perang perdagangan, saya sering mengunjungi situs web resmi PBB terutama WTO dan terakhir saya saya berkonsultasi dengan pakar ekonomi” tambah Rendy

Terakhir, Rendy mengungkapkan kebahagiaannya atas pencapaian ini dan mendorong semua siswa untuk berkontribusi secara aktif dalam berbagai kompetisi untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mahasiswa President University memiliki kapasitas untuk memberikan ide-ide luar biasa yang dapat menghadirkan masa depan yang lebih baik. (LO/SL)